Jumat, 08 Juli 2011

The Romance of The Lonely Turtle

Aku seekor kura-kura yang kesepian. Hidupku selalu dipenuhi dengan tangisan. Tak ada yang memperhatikan dan menyayangiku sepenuh hatinya. Pada suatu hari ketika aku sedang menyendiri di tepi danau, seekor ikan mas mendekatiku. Ia mengenalkan dirinya kepadaku dan aku mengenalkan diriku kepadanya. Kini, aku dan dia pun mulai berteman. Kemudian ia bercerita kepadaku tentang hubungannya dengan ikan nila yang telah berakhir. Ia membenci ikan nila karena ikan nila telah menyakiti dan membohongi dirinya. Aku pun mencoba untuk menenangkannya dan memberikan saran kepadanya. Setelah lama bercerita, ia pun pergi. Aku senang bisa bertemu dan berteman dengannya. Tapi sejak ia pergi, ia tak pernah kembali. Aku mencemaskannya. Aku merindukannya. Aku tak dapat berhenti memikirkannya. Aku pun sedikit menyadari bahwa ada perasaan lain yang kurasakan padanya. Ya, perasaan sayanglah yang ternyata kurasakan kepada dirinya. Tapi aku coba untuk memendam rasa itu.

Setelah beberapa lama kemudian, ada seekor katak yang menghampiriku. Kami pun saling berkenalan satu sama lain. Kemudian kami pun saling bercerita tentang kehidupan masing-masing dan bercerita tentang apa saja yang menarik untuk diperbincangkan. Ia pun bercerita bahwa ia telah memiliki kekasih, walaupun ia dan kekasihnya itu jarang sekali bertemu. Malah mungkin hampir tak pernah bertemu kembali. Kami sering sekali bercerita atau hanya sekedar menyapa. Sampai pada akhirnya, ia mengatakan bahwa ia menyukai dan menyayangiku. Aku ragu dengan perkataannya itu. Apakah perkataannya itu benar atau hanya omong kosong saja? Aku tak tahu. Aku bingung harus bagaimana. Di satu sisi, ia telah memiliki kekasih sedangkan aku pun tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku juga memang menyukainya. Tapi disisi lain, aku merindukan dan memikirkan ikan mas yang masih aku sayangi dan aku pun berharap ikan mas akan menemuiku lagi suatu hari nanti. Setelah berpikir matang-matang, aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengannya. Ia mengerti walaupun aku tak memberikan alasannya. Ia memang seekor katak yang baik hati. Dan walaupun kami tidak menjalin hubungan khusus, tapi semakin hari kami malah semakin dekat. Aku merasa nyaman dengannya, dia selalu ada disaat aku senang ataupun sedih. Dia sangat perhatian dan peduli padaku. Kami terlihat seperti sepasang kekasih. Padahal sebenarnya kami bukanlah sepasang kekasih.

Setelah beberapa hari kemudian, aku dikagetkan dengan hadirnya ikan mas. Aku tak percaya ia datang menemuiku. Aku amat teramat bahagia. Akhirnya ia datang kembali untukku. Kemudian aku berbincang-bincang dengannya agar rasa rindu yang kurasakan kepadanya sirna. Dan setelah lama kita berbincang, tiba-tiba ia menyatakan cintanya kepadaku. Aku sangat terkejut. Itulah kalimat yang aku tunggu-tunggu sejak dulu. Tapi aku masih belum yakin bahwa ia akan benar-benar menyayangiku. Kemudian aku memutuskan untuk tidak menjawabnya pada saat itu. Ia pun pergi dan berjanji bahwa ia akan kembali meminta jawabanku itu. Dua hari kemudian ia datang. Sebelum aku menjawab pertanyaannya, aku ingin ia berjanji padaku bahwa ia tidak akan menjalin hubungan lagi dengan ikan nila dan aku tidak ingin ia membohongiku. Ia pun berjanji. Kemudian, aku menerimanya sebagai kekasihku. Walaupun aku telah menjalin hubungan khusus dengannya, tapi hubunganku dengan katak pun masih tetap berjalan.

Awalnya, ikan mas selalu berkata “aku sayang kamu”, “aku tak ingin kehilangan kamu”, dan lain sebagainya yang membuatku semakin percaya bahwa ia benar-benar sayang padaku. Tapi ternyata, setelah lama menjalin hubungan dengannya, aku sedikit menyadari sikapnya yang sama sekali membuatku terkadang amat kecewa. Diantaranya, aku merasa bahwa ia tidak pernah mengakui aku sebagai kekasihnya dihadapan teman-temannya. Ia sama sekali tidak peduli padaku. Ia tidak perhatian padaku. Dan ia pun tak pernah ada disaat aku membutuhkannya. Ia sangat berbeda dengan katak yang sangat perhatian dan peduli padaku. Dan hanya kataklah yang selalu ada disaat aku membutuhkannya. Aku benar-benar lebih merasa nyaman dengan katak daripada dengan ikan mas. Tapi aku mencoba untuk mempertahankan hubunganku dengan ikan mas. Selama aku menjalin hubungan dengan ikan mas, ikan nila selalu mengganggu. Aku tak tahu mengapa ikan nila mengganggu hubunganku dengan ikan mas. Apa mungkin dia masih menyayangi ikan mas? Mungkin. Tapi ikan mas selalu berkata bahwa ia tak akan pernah lagi berhubungan dengannya. Karena rasa kecewanya terhadap ikan nila yang masih membekas. Ia pun berkata padaku bahwa ia bisa membuktikan kalau ia benar-benar sayang padaku. Ia pun bersumpah kalau ia bisa membuat aku bahagia. Aku pun percaya padanya. Karena untuk menjaga suatu hubungan agar tidak mudah pecah salah satunya itu adalah kepercayaan. Maka dari itu aku mencoba untuk mempercayainya.

Dua hari kemudian, tiba-tiba ia bertanya dengan nada tinggi padaku tentang apa yang telah aku katakan pada ikan nila. Aku bingung. Lalu aku bertanya pada ikan mas apa sebenarnya yang ikan nila katakan padanya. Ia menjawab bahwa aku telah memberitahu ikan nila tentang hubunganku dengannya. Aku pun terkejut. Karena aku sama sekali tidak pernah berkata apapun kepada ikan nila. Kenal dengannya saja tidak. Sepertinya ia belum merasa yakin padaku. Maka dari itu, aku pun mengucapkannya dengan kata sumpah agar ia benar-benar mempercayaiku. Ia tak berkata apa-apa. Aku pun terdiam dan berpikir. Aku berpikir mengapa hanya karena ikan nila mengetahui hubunganku dengannya, ia begitu marah padaku? Sekarang aku yakin bahwa ia benar-benar tidak mengakui aku sebagai kekasihnya. Ia berkata padaku bahwa ia mengira aku akan menjadi yang terbaik untuknya. Tapi ternyata tidak. Aku sama saja dengan ikan nila yang telah menyakitinya. Aku bingung dengan perkataannya. Mengapa ia menilaiku seperti itu? Padahal selama ini aku telah mencoba menjadi yang terbaik untuknya dengan cara memberikan perhatian lebih padanya, menyayanginya, bersabar dan bertahan atas sikapnya yang sebenarnya selalu membuatku sakit hati. Dan aku pun berusaha agar aku selalu ada untuknya disaat ia membutuhkan. Serta, walaupun ia selalu menyakitiku tetapi hatiku selalu memaafkannya. Tapi semua sia-sia. Aku selalu salah di matanya. Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya itu. Dan aku makin kecewa saat aku mengingat janjinya dulu. Janji yang diucapkannya bahwa ia akan membuatku bahagia. Tapi apa yang aku dapatkan? Sama sekali bukanlah kebahagiaan. Disitulah kesabaranku untuknya sirna. Aku tidak kuat dengan perlakuannya kepadaku. Keesokkannya, aku merasa bahwa ia menjauhiku. Ia tak pernah memberi kabar padaku. Kini hubunganku dengannya semakin tak jelas. Apakah masih berlanjut atau malah memang sudah berakhir? Sebenarnya hatiku tak ingin hubunganku dengannya berakhir. Tapi aku juga tidak sanggup dengan sikapnya yang selalu membuatku kecewa, marah dan menangis.

Walaupun begitu aku tetap menunggunya. Berharap ia akan memberikan penjelasan kepadaku tentang hubungan ini. Tapi nihil. Ia tak pernah datang memberikan kejelasan untukku. Aku lelah. Aku benar-benar lelah menantinya. Karena itu, aku memutuskan untuk meyakini bahwa hubunganku dengannya telah berakhir. Lagipula ia juga pasti telah menganggap semuanya berakhir. Aku harus tetap menerima kenyataan bahwa dia bukanlah yang terbaik untukku. Saat itu aku sangat membencinya. Ia sama sekali tak punya hati dan perasaan. Aku tidak akan peduli lagi padanya. Aku pun akan berusaha untuk melupakan dirinya. Dan melupakan semua kenanganku bersamanya. Air mataku terus mengalir karena tak kuat menahan rasa sakit ini. Kemudian aku menceritakan semua ini kepada katak. Ia menghiburku sampai aku benar-benar tenang. Tak lama air mataku pun mulai berhenti, hatiku menjadi tenang dan aku pun kembali tersenyum. Dia memang selalu bisa membuatku tersenyum. Aku amat teramat nyaman berada didekatnya. Ia tak pernah membuatku kecewa, sedih dan marah. Yaaaaa, sebenarnya ia memang pernah membuatku menangis. Tapi menangis karena terharu mendengar kata-katanya yang luar biasa. Sampai membuatku seakan terbang ke langit teratas.

Sejak aku mengenal katak dan ia selalu ada untukku. Aku merasa aku bukanlah seekor kura-kura yang kesepian seperti dulu. Aku senang sekali ia hadir dalam hidupku dan menemaniku. Karena sikapnya itulah yang membuatku semakin jatuh hati padanya. Aku benar-benar sangat menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar teman ataupun sahabat dengannya. Tapi apakah mungkin semua itu bisa terjadi? Aku tak tahu. Aku hanya bisa berharap ia akan menjadi kekasih sejatiku kelak.

Aku masih sering bertemu dengannya. Menjalani hari-hariku bersamanya. Tapi sayang, tak lama kemudian ia menghilang. Ia tidak pernah menemuiku lagi. Aku mencemaskannya. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku selalu berdoa semoga Tuhan melindunginya dimanapun ia berada. Dan aku akan terus menantinya.

Hari-hari berlalu, tapi ia tak pernah datang menemuiku. Aku sangat merindukannya. Aku tak tahu ia sedang apa dan dimana. Aku selalu mencarinya tapi tak pernah kutemukan.Kemana ia pergi? Apa sesuatu telah terjadi padanya? Atau mungkin ia telah menemukan pendamping untuknya? Aku lelah mencari dan menantinya tetapi tak kudapatkan hasilnya. Sejak saat itulah, aku merasa bahwa aku harus melupakannya. Melupakan semua tentangnya dan kenanganku bersamanya. Kini,  aku pun kembali menjadi seekor kura-kura kesepian yang selalu berharap akan hadirnya kekasih sejati untukku kelak.

- The End -

DAD, I'M SORRY

14 juni 2010, saat dimana aku harus kehilangan sosok seorang ayah dalam hidupku untuk selamanya. Aku tak pernah mengira bahwa beliau akan meninggalkanku dan keluarga secepat itu dan dalam suasana seperti itu. Aku amat teramat merasa bersalah dan merasa benar-benar berdosa. Di usia beliau yg sudah terbilang tua, aku malah tidak memperdulikannya. Aku bersikap seperti itu karena rasa benci di hatiku terhadap beliau. Rasa benci itu hadir saat ayah dan ibuku bertengkar. Ya, benar-benar bertengkar hebat. Aku merasa kasihan pada ibuku yang selalu disalahkan. Dan akibat pertengkaran itu, ibuku memutuskan untuk pisah ranjang dengan ayahku.

Beberapa minggu setelah pertengkaran itu terjadi, tepatnya tanggal 04 mei 2010 mereka bertengkar hebat lagi. Mereka lupa bahwa hari itu adalah ulang tahun kakak pertamaku. Aku kasihan pada kakakku yang harus menerima "HADIAH SPESIAL" dari ayah dan ibuku. Pertengkaran hari itu mengakibatkan ibuku pergi dari rumah selama beberapa hari.

Suatu sore, ibuku berkata "kayaknya udah ga bisa disatuin lagi". Itu, itu kata2 yang membuatku putus asa untuk mendapatkan keluarga yang sempurna seperti dulu. Sejak saat itu, hubungan mereka sangatlah tidak harmonis. Mereka tidak pernah saling mengobrol, saling senyum, bahkan saling menatap pun tidak.

Dan pada tanggal 13 juni 2010 malam, ayahku memegang tangan ibuku dan meminta maaf kepadanya. Ibuku hanya terdiam, tidak memberikan respon sedikitpun. Dan tanpa diduga ayahku berkata "kalo bapak meninggal, dikuburnya jangan jauh-jauh, yang deket aja. terus ga usah nunggu sodara yang dari solo, kelamaan". Ibuku tetap diam dan langsung masuk kamarku. Aku yang mendengarkan ucapan itu, malah terus mendengarkan musik tanpa berfikir bahwa itu adalah pesan terakhir ayahku dan ucapan terakhir dari beliau yang sempat aku dengar.

Pagi harinya tanggal 14 juni 2010, aku melihat ada yang berbeda dari ayahku. Biasanya saat aku akan berangkat sekolah, beliau telah siap dengan kendaraannya untuk mengantarkanku ke sekolah (saat itu aku sedang menghadapi Ujian Kenaikan Kelas). Tapi pagi itu tidak. Beliau memang sudah bangun dan minum teh, tapi kemudian masuk kamar dan tidur lagi. Aku yang ingin pamitan merasa tidak tega untuk membangunkannya. Maka dari itu, aku langsung saja berangkat sekolah.

Saat UKK selesai pada pukul 11:00, aku sama sekali tidak merasakan firasat apapun. Malah saat itu aku akan pergi ke BNR bersama teman-temanku. Tapi entah kenapa sampai jam 12 lewat aku masih saja berada di sekolah. Tiba-tiba wali kelasku menghampiriku dan teman-temanku, ia memanggil salah satu temanku yg bernama Anggi. Setelah berbicara dengan Anggi, tiba-tiba Anggi menyuruhku ikut dengannya. Aku bingung kenapa hanya aku yang diajak olehnya. Anggi mengendarai motor dengan kecepatan tinggi dan terburu-buru. Aku pun bingung, tiba-tiba aku memikirkan rumah karena Anggi membawaku menuju arah rumahku. Aku memaksanya untuk memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya ia tidak ingin memberitahuku, tapi perasaanku benar-benar kacau. Dan setelah aku memaksanya, barulah ia memberitahu apa yang terjadi. Aku masih mengingat kata itu "bokap meninggal". Demi Allah aku tidak percaya dan rasanya aku ingin teriak bahwa semua itu BOHONG! Tapi setelah sampai di rumah, aku benar-benar tidak percaya bahwa ayahku telah tiada. Aku menangis dan hanya bisa menyesali. Aku meminta maaf di hadapan jenazah ayahku.Walaupun aku tahu bahwa beliau tidak akan memberikan respon apapun. Seandainya pagi itu aku pamitan dan berbicara sebentar saja dengannya, mungkin itu adalah kenangan terakhirku bersama beliau. Aku amat teramat menyesal. Saat itu, rasa benci itu hilang dan berubah menjadi rasa kehilangan dan penyesalan yang amat mendalam.

Saat aku mengantarkan beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir dan saat jenazah ayahku ditimbun dengan tanah, tangisanku semakin menjadi. Aku benar-benar tidak menduga bahwa ayahku akan meninggalkanku secepat itu. Disitu aku berharap itu hanyalah mimpi dan semuanya akan lenyap setelah aku terbangun. Tapi ternyata tidak, itu adalah kenyataan yang benar-benar harus aku terima dengan ikhlas. Dan aku hanya bisa terdiam dan selalu berdoa dalam hati, memohon agar beliau memaafkanku. Amin :)

# Dian sayang banget sama ayah. Dian kangen sama ayah. Maafin semua salah Dian ya. Makasih karna ayah telah menjadikan Dian sebagai anak kesayangan ayah. DIAN SAYANG DAN KANGEN BANGET SAMA AYAH :*