Kamis, 02 Februari 2012

BONEKA CINTA

Cinta bukanlah dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan.

Gue punya cowok yang dari kecil udah gue kenal, namanya Tommy. Gue selalu anggep dia temen sampe tahun lalu, pas kita ikut perjalanan liburan, gue ngerasa kalo gue udah jatuh cinta sama dia. Sebelum perjalanan itu berakhir, gue ngeberaniin diri ngungkapin perasaan gue ke dia. Dia nerima cinta gue dan kita jadian.

"Tom, bisa ga kita nonton malem ini?" tanya gue. "Aku ga bisa" jawabnya simple. "Kenapa? Kamu ada tugas ya?" tanya gue lagi dengan penuh rasa kecewa. "Engga kok. Malem ini aku udah ada janji sama temen". Yaaah....dia selalu gitu. Sejak gue kenal dia, gue belum pernah ngedenger dia bilang "I LOVE YOU". Bahkan dia ga bilang apa-apa dari hari pertama jadian sampe hubungan kita berlanjut ke 100....200 hari....

Setiap hari, sebelum berpisah, dia cuma ngasih gue sebuah boneka. Setiap hari, ga pernah engga. Gue ga tau kenapa.

Kemudian suatu hari....

"Hmm...Tom, aku..aku" kata gue gugup. "Ada apa? Jangan ragu, bilang aja" jawabnya. "I love you" kata gue. "Kamu... Hmm ambil nih bonekanya dan cepet pulang".

Gitulah cara dia mengabaikan 'tiga kata' suci gue dan ngegantinya sama boneka. Lalu dia ngilang, berlari seperti menghindari sesuatu.

Di hari ulang tahun gue, gue sedih banget. Gue kira dia bakal inget ulang tahun gue. Tapi hari itu, dia cuma ngasih gue boneka aja dan langsung pergi. Langsung gue teriak, "TUNGGU!!!"

"Bilang...bilang sama aku kalo kamu cinta sama aku!!"

"Apa?"

"Bilang sama aku!!"

"Aku ga mau bilang kalo aku mencintai seseorang dengan gampangnya. Kalo kamu ngerasa putus asa ngedenger ucapan aku, carilah cowok lain". Itulah yang diucapkannya. Dia langsung berlari ninggalin gue. Dia ga mau bilang dengan gampangnya. Kenapa dia tega? Gue ngerasa mungkin dia bukan cowok yang tepat buat gue.

Setelah hari itu, gue ngurung diri di kamar dan nangis. Dia ga nelfon walaupun gue nunggu. Dia cuma melanjutkan kebiasaan bodohnya ngasih gue boneka setiap hari. Dengan cara itulah boneka-boneka menuhin kamar gue, setiap hari.

Satu bulan berlalu, dia nelfon gue dan minta ketemuan di pemberhentian bus deket rumah gue. Gue berusaha nenangin diri dan pergi ke sana. gue berusaha nguatin diri kalo gue harus bisa lupain dia. Bahwa, inilah akhir dari kisah gue dengannya.

"Ren, aku kira kamu tersesat dan ga bisa nemuin aku. Ini kamu kan?"

Gue ga bisa benci sama dia. Dia bertingkah seperti semuanya baik-baik aja dan berusaha ngegoda gue dengan leluconnya. Lalu, seperti biasa dia memberikan bonekanya.

"Aku ga butuh itu!!" tegas gue.

"Apa? Kenapa?" tanyanya heran.

Gue rebut boneka itu dan membuangnya ke jalanan.

"Aku ga butuh boneka itu! Aku ga butuh lagi! Aku ga mau ketemu orang kayak kamu lagi!" kata gue.

"Maafkan aku" katanya lirih. Lalu dia berjalan ke arah jalan buat ngambil boneka itu.

"Hei bodoh! Ngapain kamu ambil boneka itu? Buang aja!" teriak gue. Tapi dia tetap berjalan ngambil boneka itu. Lalu...... "POM......POM!!!!!" bunyi klakson sebuah truk besar bergerak ke arahnya. "Tom! Minggir!!!"

Tapi dia ga denger gue. Dia membungkuk dan ngambil boneka itu. "TOM, MINGGIR!!!!!"

"POMM!!!!" dan kemudian "BUUMMM!!!!!" suara itu sangat mengerikan. Dengan cara itulah dia pergi, tanpa natap gue buat bilang sesuatu. Sejak itu gue ngerasa sangat kehilangannya.

Dua bulan berlalu, gue ngambil boneka-boneka itu. Itu adalah satu-satunya pemberian dari dia sejak pertama kita jadian. Gue mulai ngitung boneka-boneka itu. Semuanya ada 485 boneka. Gue nangis lagi dengan sebuah boneka di pelukan gue. Gue memeluknya erat-erat, lalu tiba-tiba.....

"I love you ~~ I Love you ~~"

Gue shock. "I love you?" pikir gue dalam hati. Gue ambil boneka-boneka itu dan menekan perut mereka... "I love you ~~ I love you ~~". Ga mungkin!! Gue tekan perut semua boneka itu dan semuanya sama. Kata-kata itu keluar tanpa henti. I love you. Kenapa gue ga pernah sadar kalo hatinya selalu ada di sisiku, ngejagain gue.

Gue ngambil boneka yang gue simpan di bawah tempat tidur gue dan menekan perutnya. Itulah boneka terakhir yang gue lempar ke jalan. Masih ada darahnya yang melekat di boneka itu.

Sebuah suara yang gue rindu...

"Ren, kamu tau ga hari ini hari apa? Kita udah saling mencintai selama 486 hari. Kamu tau ga apa artinya 486? Aku ga sanggup bilang "I love you"..... karena aku malu buat bilangnya. Kalo kamu mau maafin aku dan nerima boneka ini, aku bakal bilang 'I love you" setiap hari.... sampe aku mati. Ren, I LOVE YOU"

Air mata gue membanjiri pipi gue. Kenapa? Kenapa Tuhan? Kenapa gue baru tau hal ini sekarang? Dia ga bisa ada di sisi gue tapi dia mencintai gue sampe detik terakhir hidup dia. Untuk itu dan karena alesan itu, bagi gue, itu menjadi penguat untuk memulai sebuah kehidupan yang indah.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.

**sumber : 6000 anak tangga cinta (Agnes Nita Carolina, SSi., MSi. dan A. Rudiy, SS. MTh.,)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar